FF inie terinspirasi ketika aku bermimpi tentang Jensie n' q dedikasikan u/ smua winchester girl yg agee broken heart hari nie... T.T
ratting: T (i think)
------------------------------------------------------------------------------------------------
Kaki ku serasa di ikat pada sebuah beton seberat 50 kg ketika akan memasuki taman yg telah dihias dengan indah itu. Dari gerbang taman terlihat Jensen sangat tampan dengan jas pengantinnya. Ku pandang sekeliling ku dengan seksama. “tema yang bagus” gumamku. Yah, nuansa pesta kebun dengan dominasi warna hijau sangat menggambarkan pribadi Jensen yang lembut dan teduh, terlebih lagi dengan warna matanya yg sangat khas seolah semakin menambah suasana teduh. Aku pun teringat kembali saat – saat kami masih bersama.
*****
Jensen adalah anak dari tante Ellen, kakak ibuku. Pria yang 3 tahun lebih tua dari ku ini sudah ku anggap seperti kakak ku sendiri, selain karena aku yg tdak mempunyai kakak juga karena dialah satu – satu nya saudara ku yang paling dekat. saking dekat nya dia sering seakli menginap di rumah ku kala akhir pekan, jika kami bersama kami dapat melakukan hal – hal konyol yang dapat membuat mom geleng – geleng kepala, tapi walupun begitu mom tdak pernah memarahi atau memprotes kami karena dia tahu selama aku bersama jensie semua pasti akan baik – baik saja. Yah, dia akan melakukan apa saja untuk memastikan kalau aq baik – baik saja. Pernah suatu kali saat aq berumur 7 tahun dan ia mambawa qu ke taman, ia bilang,
“hey, sammy. Qta ke taman yuk”.
“oke tapi aku ditraktir ice cream yah??”
“yah, okelah” jawabnya setelah menengok isi kantong nya. Sesampainya kami di taman, kami pun asik bermain di sand box. Membangun istana pasir kami dan berkhayal tentang nya. Dia lah orang yang mengenalkan dunia khayal pada qu, bagi gadis berusia 5 tahun dunia khayal adalah tempat yg mnyenang kan. Tak terasa matahari pun semakin condong ke arah barat, kami pun telah lelah berkhayal. Sebelum pulang ia menepati janjinya membelikan ku ice cream, aq masih hafal rasa ice cream favorit nya, moccachino dengan taburan choco chips diatasnya. Dengan lahap ku jilati ice crean ku sepanjang perjalanan kerumah. Saking asik nya menikmati ice cream, aq pun tak melihat kerikil di trotoar, dan tak ayal aq pun terjatuh n ‘ kaki ku terkilir, ditambah lagi ice ceram qu yang tercecer di jalan sudah tak mungkin ku nikmati lagi. Dengan rasa sakit di kaki ku n ‘ rasa sedih karena ice cream, aq pun hampir menangis saat tangan lembut jensie membelai rambut ku dan berkata,
“hei, sammy. Jangan menangis.”
“tapi kaki ku sakit dan ice cream ku…” sahut ku terisak
“coba sini kulihat kaki mu” dia pun maraba – raba kaki ku dan aq hanya bisa mengaduh kesakitan ketika ia menyentuh bagian yang terkilir. “kamu bisa berjalan ga?” Tanya nya kemudian yg hanya dijawab gelengan kepala ku. Lalu dia pun berlutut membelakangi ku dan berkata, “ayo naiklah ke punggung ku, qta harus segera pulang dan memeriksakan kaki mu. Oya, ini kamu pegang kan untuk ku yah.” Ujarnya seraya memberikan ice cream nya pada ku. Aku pun memegangi ice nya. Bahu jensie sangat hangat. Entah kenapa aq merasa nyaman berada di gendongannya. Ice itu pun mulai meleleh dan menetes di baju nya.
“oh, tidak. Ice nya meleleh Jens” ujarku.
“oh tidak, Bantu aq menghabiskan nya sammy” perintahnya
aku pun menyuapi nya ice cream sepanjang perjalanan, dan aq pun membantu nya menghabiskan ice itu. Dan aq pun mulai melupakan rasa sakit di kaki ku.
****
Seseorang menarik tangan ku dan mengajak ku memasuki gerbang.
“duh, sabar donk mom” gerutu ku.
“kenapa sih dari tadi bengong melulu. Merasa kehilangan yah??” Tanya nya menggoda disertai seringai menggoda ku.
“want to know, aja” ujarku sok inggris dan berlalu menghampiri daddy. Yah, memang ada sedikit rasa takut kehilangan di hati ku.
Selama ini jensie lah yang selalu menghibur ku. Teringat saat Bryan, menghianati ku.
****
Aq mengenal Bryan saat memulai tahun ajaran pertama ku di senior high school. Bryan, seorang bintang sekolah yang di minati banyak cewek – cewek di sekolah. Bahkan banyak senior yang menyatakan cinta padanya dan selalu di tolak. Suatu siang di kantin ia menyapa ku. aneh nya aku merasa tertarik pada nya. Selama ini satu – satu nya cowo yang mengisi hidup ku hanya lah Jensie, tapi entah kenapa saat aku bersama Bryan, aku merasa sangat dekat dengannya. 3 minggu kami jalan bareng, dan di suatu malam setelah kami pulang menonton, ia menyatakan perasaannya pada ku. dan sudah pasti aku langsung menerima nya. Aku pun menceritakannya hal itu pada jensie, dan memang selama ini aku tidak pernah bahkan tidak bisa menyembunyikan segala sesuatu pada nya. Setelah aku menceritakannya dan meminta pendapat nya, ia hanya tersenyum dan berkata “beruntung sekali pria itu mendapat kan Sammy ku.”
“tenang aja jensie, aku tetap sammy mu kok.” Jawab ku dan kami pun tertawa bersama. Hampir setahun aq dan Bryan berhubungan. Hingga suatu hari saat aq dan teman qu sedang brada di sebuah mall, melihat Bryan merangkul seorang junior. Aku pun menghampiri nya dan tanpa pikir panjang aku memberikannya tamparan yang mungkin masih membekas hingga saat ini. Saat itu yang ku pikir kan hanya lah jensie. Malam itu ku putus kan untuk menginap di flat nya. Sesampai nya disana aq memeluknya sembari terisak. Dya membelai rambut ku dan bertanya, “hey, ada apa sammy??” belaiannya masih sama saat dya membelai lembut rambut ku saat kaki ku terkilir dulu.
Setelah mengajak ku masuk, ia memberiku segelas moccachino hangat. Aq sangat menyukai moccachino buatannya. Walau pun aku tahu itu adalah moccachino instant, tetap saja rasanya beda jika orang lain yang membuat nya.
“sekarang cerita deh, kenapa kamu kayak gini?” tanyanya
“Bryan. Dia jalan sama junior di sekolah ku. aku marah padanya dan menamparnya.” Jawabku masih sedikit terisak.
“sudahlah, lupakan saja dya. Masih banyak koq cowo yang lebih baik dari dya. Oh ya, aku sudah menyelesaikan tantangan ku lho…”
“hah?? Tantangannya yang mana??”
“itu lho tantangan apa aku bisa memainkan I’ll be there dengan gitar akustik. Aku sudah menguasai nya. Mau dengar??
“ah, masa?? Coba aku mau dengar” tantang ku.
Jensie pun mengambil gitar kesayangannya dan kembali tak lama kemudia. Dia pun mulai memainkan lagu I’ll be there dengan gitar bolong nya itu. Suara jensie yang lembut semakin indah di dengar saat menyanyikannya. Ketika sampai di suatu bait nya ia menatap ku dan menyanyikan “If you should ever found someone new, I know he better be good to you, cause if he doesn’t, I’LL BE THERE”
Mendengarnya akupun mengangguk. Dan ia menyunggingkan senyum manisnya. Suasana pun hanya dihiasi suara gitar jensie. Hingga berapa saat berlalu,
“umh, Jensie.” Mulai ku
“hmmm??” jawab nya sambil terus memainkan gitar
“bentar lagi ada prom night”
“terus??”
“aku bingung mau berangkat sama siapa. Tadinya kan mau pergi sama Bryan, tapi sekarang aku gak mau lagi pergi ama dya, mau nemenin aku ga??”
“oke, tapi traktir ice cream yah?” jawabnya menyeringai menirukan permintaan ku dulu
“iya, iya… malam minggu jam 8 jemput di rumah ya”
“siip. Sekarang kamu istirahat deh sana. Nanti aku telepon aunty bilang kamu disini.”
“oke. Thanks” ujar ku menutup percakapan malam itu.
****
Malam minggu pun tiba. Sesuai janji, jensie datang bahkan sebelum jam 8 ia sudah ada di rumah ku. begitulah dia, selalu datang dan pergi semaunya.
“mom, kami pergi dulu ya”
“bye aunty. Tenang aja, sammy punya pengawal pribadi koq, pasti semuanya akan baik – baik aja.” Ujar nya cengengesan
“iya, aunty tahu koq.” Jawab mom
“tapi inget Sam, sebelum jam 12 harus udah sampai di rumah” ujar Dad
“huufft, kayak Cinderella aja.” Celetuk ku yang disusul jitakan jensie.
Suasana prom night di sekolah tidak ada bedanya dengan sekolah – sekolah lain. Yang membedakan adalah adanya jensie di samping ku. Sudah ku duga, begitu kami memasuki ruangan, semua mata tertuju pada Jensie. Semua cewe di sekolah ku seolah terhipnotis oleh ketampanan jensie. Bahkan pesona Bryan pun tidak ada apa – apa nya dibandingkan jensie.
“hai Sam? Bisa bicara sebentar?” bryan meminta ku.
“tidak” jawab ku tegas.
“sebentar saja.” Katanya seraya memgangi lenganku.
“lepasin.”
“tidak sebelum kau mau bicara denganku”
“hey dude” kata jensie seraya menepuk bahu Bryan
“apa?” jawab Bryan ketus
“lepasin Sammy. Atau..”
“atau apa?”
“atau aku akan memberi mu ini” jawab Jensie seraya meninju muka Bryan.
“jauh – jauh dari Sammy atau aku akan memberi mu lebih dari itu.”
Kata jensie memperingatkan Bryan dengan tatapan tajam.
Malam itupun ku lalui dengan indah bersama jensie. Semua mata tetap terfokus pada pria bermata hijau yang bersama ku ini. Hingga sesampai nya dirumah,
“thanks Jens”
“untuk?”
“untuk malam ini dan semuanya”
“apa sih yang ga aku kasih untuk Sammy ku tersayang.”
****
“Sammy..”
akupun tersadar dari bayangan masa lalu ku. ku ikuti arah suara dan ku lihat Jensie melambaikan tangannya ke arah ku. ku langkah kan kaki ku menghampirinya.
“hai jensie. Kau terlihat sangat tampan”
“thanks. Iya donk aku kan memang tampan”
“hahaha. Dasar narsis”
"tapi kamu juga cantik." puji jensie
“gak terasa yah, akhirnya kamu menikah juga.” Ujar ku terdengar sedih tapi tetap berusaha senang.
“hei, Sammy, jangan begitu donk. Aku akan selalu jadi jensie mu kok.”
“iya, aku tahu.”
“jadi jangan sedih gitu donk. Tetap semangat yah” ucap nya seraya membelai rambut ku.
Tiba – tiba seorang wanita bergaun pengantin nan anggun datang menghampiri kami.
“hai Samantha. Kemana aja, koq tadi gak bareng aunty Nad??”
“hai Joliessa. Iya, tadi muter – muter dulu liat – liat suasana.. heem, tema nya bagus. Kamu juga cantik. Awas aja kalo jensie samapai macem – macem.” Ujar ku yang disertai tawa kami.
“o iya, mana Dean?” Tanya jensie.
“bentar lagi juga sampai. Tuh dya.”
Seorang pria bertubuh kekar turun dari impala nya dan melambaikan tangan pada kami. Dialah Dean. Cwo yang sudah 5 bulan menjadi kekasih ku. secara fisik dya hampir mirip dengan Jensie. Tubuh kekar berotot namun tidak terlalu tinggi. Terlebih mata hijau nan teduh nya selembut mata Jensie. Hanya saja Dean lebih cheerfull dan spontanitas. Dya juga tidak selembut Jensie. Tapi dya sangat pintar merayu. Itulah yang membuat ku terperangkap cintanya. Dean menggunakan setelan jas yang mengkilap. Baru kali ini aku melihat nya dengan pakaian seperti itu, karena byasa nya Dean lebih senang memakai Jeans, kaos dan jaket yang sewarna dengan matanya. tak lupa sebuah amulet mengintip dati balik kemeja nya. Sepasang Amulet yang kubeli, ku berikan satu untuknya sebagai "Jimat" agar kami selalu bersama. Dan kemana pun aku pergi aku pun selalu membawa pasangannya.
"hai babe" sapa nya seraya merangkul ku.
“Yo, jensie. Hai jolliesa. You look adorable guys.”
"dean, kamu terlihat sanagt berbeda" kata Joliessa
"iya, Sammy meminta ku mengenakan jas ini. yah, hitung - hitung sebagai rasa hormat ku pada kalian."
"yo, thanks bro," jawab Jensie
“Yuk kita foto bareng dulu.” ajak Jensie
Sebuah foto yang menandai kehidupan baru bagi ku dan jensie selalu tersimpan sampai sekarang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar